Total Tayangan Halaman

Jumat, 11 Mei 2012

Contoh Laporan Imunoserologi

LAPORAN IMUNOSEROLOGI I 

Hari / Tanggal : Senin, 26 Maret 2012
Judul : Penentuan Kadar HCG
Tujuan : Untuk menentukan kadar HCG
Metode : Direct Prinsip : HCG dalam sampel urin + anti-HCG polystirine partikel latex yang dilapisi anti HCG
Dasar Teori :
Human Chorionic Gonadotropin (HCG) adalah sejenis Glikoprotein yang dihasilkan oleh plasenta dalam kehamilan. Namun selama plasenta belum terbentuk, hormon ini dihasilkan sel-sel fungsi tropoblas. Setelah umur kehamilan memasuki 12-13 minggu,haormon HCG ini dihasilkan oleh plasenta.
       Di dalam tubuh, hormon ini bersifat mempertahankan korpus luteum, yakni jaringan di ovarium yang menghasilkan progesteron. Hormon progesteron ini berfungsi untuk memelihara atau mempertahankan proses kehamilan, sedangkan korpus luteum ini ditunjang keberadaannya oleh HCG. Ada dua cara . Pertama dengan menggunakan uji kehamilan home pregnancy test (HPT) yang biasa dikenal dengan test pack. Pengecekan kualitatif ini cukup mudah yakni dengan mencelupkan ujung alat ke dalam urin, biasanya alat uji ini memiliki indikator berupa dua buah garis.
         Waktu yang tepat untuk melakukan tes urin biasanya adalah 4-5 hari atau 1 minggu setelah terlambat haid, karena sebagian besar test pack sudah dapat mendeteksi HCG dengan kadar 50 IU/ml. Kedua dengan pengecekan lewat darah. Pengecekan kuantitatif ini lebih akurat tentunya karena biasanya yang diukur adalah jumlah subunit beta hormon HCG (ß-hCG). Pemeriksaannya menggunakan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Tes melalui darah ini lebih cepat dibandingkan dengan urin, karena sebenarnya kadar HCG sudah ada dalam darah sejak implantasi terjadi, atau sejak terjadi pembuahan pada hari ke 8 sudah terdapat beta HCG sehingga bisa terdeteksi lewat darah. Hanya saja pemeriksaan lewat darah masih sangat jarang karena harganya relatif mahal.
          Jumlah kadar HCG yang ideal bisa berubah atau berbeda-beda tergantung pada usia kehamilan. Kadar HCG yang ideal adalah tidak terlalu rendah, maupun tidak terlalu tinggi. Jumlah hormon HCG tidak ditentukan oleh umur si ibu, jadi yang benar-benar mempengaruhi jumlah kadar HCG adalah usia kehamilan. Kadar beta HCG ang bisa terdeteksi pada kehamilan 5 minggu yakni sekitar 22 IU/ml. Bila kadar HCG-nya rendah bisa menyebabkan keguguran.
          Sedangkan kalau kadar HCG-nya terlalu tinggi harus dicurigai karena bisa menyebabkan hamil anggur. Tidak dapat dipungkiri, stres pasti berpengaruh terhadap normalitas metabolisme dalam tubuh manusia, dan bisa mengganggu proses2 tersebut. Apalagi pada orang hamil. Seyogyanya, pada orang hamil menghindari stres baik fisik maupun psikis karena berdampak pada kehamilannya itu. Banyak mengkonsumsi makanan bergizi dan kontrol ke dokter untuk antenatal care karena pada minggu2 awal sering terjadi "morning sickness" (mual, muntah, lemas, dll).
          Pada minggu2 awal bisa terjadi perdarahan (abortus). Abortus adalah ancaman/pengeluaran hasil pembuahan (konsepsi) dengan berat badan janin <500 gram atau kehamilan kurang dari 20 minggu. Mungkin yang dimaksud Agan Keplak adalah abortus iminen. Ada pula yang disebut abortus insipien (Abortus Iminen: Perdarahan minimal dengan nyeri/tidak Uterus sesuai dengan umur kehamilan, Servike belum membuka, Test hamil: positif, USG: Produk kehamilan dalam betas normal; Abortus Insipien: Perdarahan dengan gumpalan darah, Nyeri lebih kuat, Servike terbuka den teraba ketuban, Hasil konsepsi masih berada dalam kavum uteri. Pada abortus iminen penanganannya terdiri atas istirahat baring untuk menambah aliran darah ke uterus dan mengurangi rangsangan mekanis. Mudah2an bisa membantu. (id.wikipedia.org/wiki/Hormon_Hcg)

Alat dan Bahan :
1.    Alat
a.    Tabung reaksi
b.    Pipet volume
c.    Mikropipet 100 μl dan 1000 μl
2.    Bahan
a.    Urin
b.    Reagen latex

Prosedur Kerja :
1.    Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2.    Mengambil 1 tetes urin atau ± 40 μl.
3.    Ditambahkan 1 tetes reagen latex atau ± 40 μl.
4.    Dihomogenkan kemudian diperhatikan terbentuknya aglutinasi sebelum 1-2 menit karena dapat menyebabkan positif (+) palsu.
Hasil                   :
Teraglutinasi (+)
Makassar, 9 April 2012
     Pembimbing                                                                         Pembimbing,


    (Nurdin, S.Si)                                                                       (Israwati, S.Si)
Praktikan,

(Panca Rahmat)

LAPORAN IMUNOSEROLOGI II


LAPORAN IMUNOSEROLOGI II
Hari / Tanggal   : Senin,   26 April 2012
Judul                  : Penentuan Kadar HCG
Tujuan                : Untuk mendiagnosis Human Chorionic Gonadotropin (HCG) dengan deteksi kuantitatif secara cepat dalam sampel urine.
Metode               : Kuantitatif
Prinsip                :
HCG dalam sampel urin + anti-HCG polystirine partikel latex yang dilapisi anti HCG. Pengujian ditetapkan untuk mendeteksi konsentrasi dalam kisaran 200 ± 100 IU.
Dasar Teori        :
Hormon Chorionic Gonadotropin (hCG) adalah hormon gonadotropin
yang disekresi oleh wanita hamil dan disintesa oleh sel-sel sintitio tropoblas dari placenta. Hormon hCG mempunyai dua rangkaian rantai peptide yaitu α yang mengandung 92 asam amino dan β mengandung 145 asam amin. Hormon Chorionic Gonadotropin (hCG) mempertahankan korpus luteum yang terbentuk ketika sel telur dibuahi yang dilanjutkan dengan terjadinya ovulasi. Hormon hCG berdampak pada meningkatnya produksi progesterone oleh indung telur sehingga menekan menstruasi dan menjaga kehamilan. Produksi hormon hCG akan meningkat hingga hari ke 70 dan akan menurun selama sisa kehamilan. Hormon ini di ekskresikan melalui urin juga terdapat dalam serum. (
http://zieczhuo.blogspot.com/2010/12/uji-kehamilan-direct-latex.html#!/2010/12/uji-kehamilan-direct-latex.html)
Human Chorionic Gonadatrophin (hCG) adalah hormon yang bekerja mirip LH (luteinising hormone) yang secara normal diproduksi oleh kelenjar pituitari. Pada anak laki-laki LH dan juga hCG memberitahu testis untuk memproduksi hormon sex laki-laki (testosterone).
Pada anak perempuan, hCG memberitahu ovarium untuk memproduksi progesteron tetapi hal ini terjadi hanya pada masa kehamilan. sehingga hCG lebih bemanfaat bagi anak laki-laki dibanding anak perempuan.
Human chorionic gonadotropin (hCG) adalah hormon peptida yang diproduksi pada masa kehamilan, yang dibuat oleh embrio segera setelah pembuahan dan selanjutnya oleh syncytiotrophoblast (bagian dari plasenta).
HCG mengatur untuk mencegah perpecahan dari corpus luteum pada ovarium dan juga mempertahankan produksi progesteron yang penting pada kehamilan pada manusia. HCG mungkin mempunyai fungsi tambahan, sebagai contoh diperkirakan HCG mempengaruhi toleransi imunitas pada kehamilan. (http://mediastore.com/apotik-online/hormon/hormon-tropik-dan-sintetiknya.htm).
Kadar Hormon Chorionic Gonadotropin (hCG) berubah selama kehamilan trimester pertama. Kadar hormon ini dapat diukur untuk menentukan apakah anda hamil atau tidak. Hormon ini diproduksi oleh sel yang membentuk plasenta atau ari-ari, yang berfungsi dalam rahim.
Kadar hCG berubah secara dramatis selama trimester pertama. Hormon ini adalah yang pertama kali dapat dideteksi sekitar 11 hari setelah terjadi pembuahan. Tetapi hanya melalui etst darah. Setelah itu antara hari ke-12 sampai 14, hormon ini dapat dideteksi dengan test urine. Kadar hCG akan berlipat ganda kurang lebih setiap 72 jam mulai dari minggu pertama sampai ke-12 kehamilan, lalu akan cenderung menurun setelah itu. (http://hairy.wordpress.com/2008/07/12/kadar-hormon-human-chorionic-gonadotropin-hcg-pada-trimester-pertama-kehamilan/)

Alat dan Bahan :
1.    Alat
a.    Tabung reaksi
b.    Pipet volume
c.    Mikropipet 100 μl dan 1000 μl
2.    Bahan
a.    Urin
b.    Reagen latex

Prosedur Kerja :
1.    Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2.    Mengambil 1 tetes urin atau ± 40 μl pada kertas stripdan kemudian ditambahkan 1 tetes latex.
3.    Homogenkann dan diperhatikan aglutinasinya sebelum dua menit karena akan menghasilakan positif (+) palsu.
4.    Memipet 100 μl urin kedalam tabung reaksi 1 dan ditambahkan 100 μl NaCl 0,9 %, lalu homogenkan.
5.    Memipet 100 μl larutan tabung 1 dan masukkan kedalam tabung 2 yang telah berisi larutan NaCl 0,9 % 100 μl dan homogenkan.
6.    Memipet lagi 100 μl pada tabung 2, lalu masukkan kedalam tabung 3 yang telah berisi NaCl 0.9 %. Begitu seterusnya sampai tabung 5.
7.    Memipet 100 μl larutan pada tabung 5 dan masukkan kedalam tabung 6 (pembuangan).
8.    Mengambil 1 tetes larutan pada masing-masing tabung dan letakkan pada card plate.
9.    Menambahkan 1 tetes latex pada masing-masing lubang card plate.
10. Dihomogenkan dan diperhatikan aglutinasinya.

Hasil                   :
  Titer = 1/8 UI



Makassar, 9 April 2012
     Pembimbing                                                                         Pembimbing,


    (Nurdin, S.Si)                                                                         (Israwati, S.Si)
Praktikan,

(Panca Rahmat)
 
 LAPORAN IMUNOSEROLOGI III 

Hari / Tanggal : Senin, 9 April 2012
Judul : Reaksi Widalt
Tujuan : Untuk mendiagnosa demam tifoid Metode : Direct
Dasar Teori :
     Reaksi Widal merupakan test imunitas yang ditimbulkan oleh kuman Salmonella typhi / paratyphi, yaitu kuman yang terdapat di minuman dan makanan kita yang terkontaminasi dengan tinja orang yang sakit tifus. Jakarta dan Indonesia merupakan reservoir raksaksa kuman salmonella dan lainnya.
     Semua manusia di Indonesia pasti pernah kemasukan kuman salmonella melalui food-chain ini. Bila kebetulan jumlah kuman yang tertelan cukup besar mungkin akan timbul penyakit tifus yang terutama ditandai oleh demam berkepanjangan sebagai ciri khas. Namun tidak semua demam adalah tifus. Tifus perlu dicurigai bila demam berlanjut sedikitnya 6-7 hari. Juga demam tifus pada hari2 permulaan hanya ringan, tidak konstan, naik-turun, dan hanya setelah 5-7 hari akan tinggi menetap, disertai badan pegal dan sakit kepala, serta kadang2 mual dan diare ringan.
      Diagnosis tifus bisa dicurigai setelah demam sekitar seminggu ditambah gejala2 diatas. Secara statistik juga demam tanpa adanya gejala positif yang mengarah ke penyakit lain, kemungkinan tifus adalah yang paling besar di Jakarta. Hal ini juga ditopang oleh musim kemarau dan banjir yang membawa kuman salmonella.
           Pemeriksaan labor untuk konfirmasi kecurigaan tadi ialah kultur darah, dilakukan sewaktu ada demam tinggi yang merupakan pertanda bahwa kuman sedang menyebar dalam darah (sehingga lebih mudah dikultur). Kultur tidak bia dilakukan pada hari2 permulaan demam karena cenderung masih negatif. Kita harus menunggu hingga demam sudah tinggi dan konstan. Sayangnya hasil kultur untuk kepastian diagnosanya baru diperoleh setelah 4-6 hari. Namun pengobatan sudah bisa dilakukan atas dasar penilaian klinis, sambil menunggu hasil kultur.  
            Test Widal tidak bisa dipercayai karena terlalu banyak test yang false positif maupun false negative. Test Widal hanya akan berguna untuk follow-up, terutama jaman dulu waktu mana belum ada antibiotika dan tifus bisa berlangsung 1 bulan atau lebih. Ia berguna untuk melihat apakah titernya naik selama penyakit tersebut. Inipun tidak berguna lagi karena obat antibiotik yang ampuh sudah tersedia dan akan menyembuhkan tifus dalam 7-10 hari, sehingga tidak perlu follow-up.
        Tingginya titer juga sangat individual dan tergantung kemampuan tubuh kita membuat antibody. Misalnya, saya mempunyai seorang pasien laki, muda yang selama lebih dari 6 bulan (tanpa demam) diberi antibiotika berganti2 oleh dokternya hanya karena titer Widalnya sangat tinggi (sekitar 1/8000) dan tidak mau turun. Tentu hal ini mubazir. Sekarang musim hujan lagi dan frekuensi tifus akan naik di Jakarta. Bawalah tulisan ini dan berilah ke dokter anda bila anda disuruh periksa Widal. (www.iwandarmansjah.web.id/popular.php?id=232)


Alat dan Bahan
1.    Alat
a.    Rak tabung reaksi
b.    Tabung reaksi
c.    Pipet volume
d.    Mikropipet 10 μl.
2.    Bahan
a.    Serum
b.    Reagen Tyda

Prosedur Kerja :
1.    Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2.    Meneteskan 1 tetes atau ± 40 μl serum pada masing-masing lingkaran slide (4 lingkaran).
3.    Menambahakan 1 tetes reagen tydal pada masing-masing lingkaran yang ada pada slide (0 AH H BH).
4.    Homogenkan dan diperhatikan aglutinasi pada slide.

Hasil                 :
Untuk 20 μl
       O    : -                   AH      : -
       H    : + (1/80)      BH      : -
Untuk 10 μl
       O    : -                   AH      : -
       H    : + (1/160)    BH      : -
Makassar, 7 Mei 2012
     Pembimbing                                                                         Pembimbing,


    (Nurdin, S.Si)                                                                         (Israwati, S.Si)
Praktikan,

(Panca Rahmat)

Minggu, 18 Desember 2011

Senyawa Pembunuh Virus HIV Ditemukan

Zhilei Chen, asisten profesor di A&M University di Texas yang berkolaborasi dengan Scripps Research Institute, menghasilkan penelitian besar dengan menemukan senyawa PD 404,182 yang bisa membunuh virus HIV, penyebab AIDS.


Penemuannya dipublikasikan di jurnal American Society of Microbiology bulan ini. “Ini adalah senyawa kecil bersifat virusidal, artinya punya kemampuan membunuh virus, dalam hal ini adalah HIV. Pada dasarnya, virus ini bekerja dengan membuka virus,” kata Chen seperti dikutip Medical Xpress.
“Kami menemukan ketika HIV kontak dengan senyawa ini, virus itu rusak dan kehilangan material genetik. Dalam hal ini, virus ‘terlarut’ dan RNA-nya (material genetik HIV) terpapar. Karena RNA tak stabil, sekali terpapar akan hilang dengan cepat dan virus tak bisa menginfeksi,” tambah Chen.
Hal yang lebih mengejutkan, senyawa ini bekerja langsung menyerang bagian dalam virus, bukan protein pada bagian dinding kapsulnya. Ini kabar bagus sebab dengan demikian, virus sulit untuk berevolusi mengembangkan resistensi.
Penemuan bahwa senyawa ini bisa membunuh virus HIV sebenarnya tak sengaja. Mulanya, Chen hendak menguji keefektifan PD 404,182 untuk melawan virus Hepatitis C. Tapi setelah mencobanya pada HIV, ternyata senyawa itu bekerja lebih efektif.
Dengan penemuan ini, Chen yakin bahwa senyawa tersebut bisa dikembangkan untuk upaya preventif, misalnya dalam bentuk gel vagina yang berguna mencegah infeksi HIV lewat hubungan seksual. Chen membuktikan bahwa ketika kontak dengan cairan vagina, senyawa ini akan tetap efektif.
Karena menyerang bagian dalam kapsul virus, bukan membrannya, Chen juga yakin senyawa ini aman dipakai manusia.
Mayoritas senyawa virusidal bekerja pada membran luar kapsul virus yang karakteristiknya hampir serupa dengan membran sel manusia sehingga bisa merusak.

Sabtu, 24 September 2011

MRSA

BAHAYA................................!!!!!!!
(methicillin-resistant Staphylococcus aureus)


Penyakit MRSA masih terdengar asing di telinga masyarakat Indonesia. Tapi di AS, sudah menyebabkan 19.000 orang meninggal karena terinfeksi bakteri ini.
MRSA atau methicillin-resistant Staphylococcus aureus adalah salah satu tipe bakteri Staphylococcus yang ditemukan pada kulit dan hidung yang kebal terhadap antibiotik.
Setiap tahunnya lebih dari 90.000 warga Amerika Serikat berpotensi terinfeksi bakteri ini. Jumlah kematian akibat infeksi bakteri MRSA lebih banyak dibandingkan dengan angka kematian akibat AIDS.
Saat ini diketahui ada dua tipe dari MRSA seperti dikutip dari Stopmrsanow, Kamis (1/10/2009), yaitu: Healthcare-Associated (HA-MRSA) yang biasanya ditemukan di rumah sakit dan tempat-tempat kesehatan lainnya. Serta Community-Associated (CA-MRSA) yang baru-baru ini ditemukan penyebarannya pada tempat-tempat umum seperti tempat fitnes, tempat penyimpanan barang (loker), sekolah dan perabotan rumah tangga.

Bakteri MRSA biasanya menginfeksi orang atau anak-anak yang memiliki daya tahan tubuh yang lemah, jika daya tahan tubuhnya tinggi tidak akan menimbulkan gejala apapun. Bakteri yang dibawa oleh orang tersebut bisa berpindah ke orang lain dan menyebar dengan mudah melalui kontak kulit dan menyentuh barang yang sudah terkontaminasi.

Gejala infeksi kulit dari Staphylococcus tergantung pada dimana infeksinya. Bakteri Staphylococcus dapat menyebabkan : bakteremia (infeksi darah), bisul/abses dalam (kumpulan dari pus (nanah) dimana yang masuk ke tubuh), endokarditis (infeksi pada katup jantung), meracuni makanan, lymphadenitis (infeksi pada kelenjar limfe, yang mana menyebabkan menjadi merah, membengkak dan menyakitkan), lymphangitis (infeksi pada saluran limfe yang menghubungkan ke kelenjar limfe, menyebabkan lapisan merah pada kulit), osteomyelitis (infeksi pada tulang), radang arthritis (infeksi dari tulang sendi, seperti pinggul atau lutut), tembel (infeksi pada kelenjar kelopak mata), toxic shock syndrome, pneumonia, infeksi telinga dan sinusitis (Ianelli, 2008).


MRSA sama seperti bakteri Staphylococcus lainnya, yang terlihat seperti infeksi kulit, jerawat, ruam, bisul atau gigitan laba-laba.
Infeksi ini biasanya menyakitkan, merah dan bengkak. Infeksi ini bisa dengan cepat masuk ke dalam tubuh, menimbulkan bengkak yang menyakitkan. Bakteri ini dapat menembus ke dalam tubuh sehingga berpotensi menyebabkan infeksi pada tulang, sendi, luka bedah, aliran darah, jantung dan paru-paru yang bisa mengancam jiwa.
Bila Anda berpikir bahwa Anda atau siapa pun dalam keluarga memiliki kemungkinan terinfeksi MRSA, segera hubungi ahli kesehatan. Terutama jika infeksi besar, menyakitkan, hangat jika disentuh atau tidak sembuh-sembuh dengan sendirinya

Dikutip dari berbagai sumber

Jumat, 17 Juni 2011

BAKTERIOLOGI

Pewarnaan Granula Bakteri

A. Judul Percobaan
Pewarnaan Granula Bakteri Metode Neisser
B. Tujuan Percobaan
Untuk mengtahui butir-butir granula bakteri Corynebacterium diphtheriae
C. Dasar Teori
Pewarnaan bakteri memberikan hasil yang cepat dan mengindikasi langkah diagnosis selanjutnya. Pada prosedur Neisser yang tidak spesifik,methylene blue , crystal violet dan chrysoidine digunakan untuk mendeteksi granula metechromatic, atau yang disebut Babes-Ernst polar bodies, khususnya pada diphtheria bacteria. Dengan nilai pH yang telah ditentukan, methylen blue dan crystal violet akan diikat pada polar bodies atau struktur (Volutin bodies), tetapi tidak terikat pada sel bakteri lainnya. Polar bodies akan terlihat sebagai titik gelap. Pada prosedur counter stain, badan bakteri diwarnai dengan chrysoidine tetapi ini hanya sebagian terserap oleh polar bodies.
Corynebacterium diphtheriae merupakan makhluk anaerobik fakultatif dan gram positif, ditandai dengan tidak berkapsul, tidak berspora, dan tak bergerak. Corynebacterium diphtheriae terdiri dari 3 biovar, yaitu gravis, mitis, dan intermedius. Di alam, bakteri ini terdapat dalam saluran pernapasan, dalam luka-luka, pada kulit orang yang terinfeksi, atau orang normal yang membawa bakteri. Bakteri yang berada dalam tubuh akan mengeluarkan toksin yang aktivitasnya menimbulkan penyakit difteri. Bakteri ini biasanya menyerang saluran pernafasan, terutama terutama laring, amandel dan tenggorokan. Penyakit ini sering kali diderita oleh bayi dan anak-anak. Perawatan bagi penyakit ini adalah dengan pemberian antitoksin difteri untuk menetralkan racun difteri, serta eritromisin atau penisilin untuk membunuh bakteri difteri. Sedangkan untuk pencegahan bisa dilakukan dengan vaksinasi dengan vaksin DPT.
Di alam, Corynebacterium diphtheriae terdapat dalam saluran pernapasan, dalam luka – luka, pada kulit orang yang terinfeksi, atau orang normal yang membawa bakteri. Bakteri disebarkan melalui droplet atau kontak dengan individu yang peka. Bakteri kemudian tumbuh pada selaput mukosa atau kulit yang lecet, dan bakteri mulai menghasilkan toksin. Pembentukan toksin ini secara in vitro terutama bergantung pada kadar besi. Pembentukan toksin optimal pada kadar besi 0,14 µg/ml perbenihan tetapi benar-benar tertekan pada 0,5 µg/ml. Faktor lain yang mempengaruhi timbulnya toksin in vitro adalah tekanan osmotik, kadar asam amino, pH, dan tersedianya sumber-sumber karbon dan nitrogen yang cocok.
Toksin difteri adalah polipeptoda tidak tahan panas (BM 62.000) yang dapat mematikan pada dosis 0,1 µg/kg. Bila ikatan disulfida dipecah, molekul dapat terbagi menjadi 2 fragmen, yaitu fragmen A dan fragmen B. Fragmen B tidak mempunyai aktivitas tersendiri, tetapi diperlukan untuk pemindahan fragmen A ke dalam sel. Fragmen A menghambat pemanjangan rantai polipeptida (jika ada NAD) dengan menghentikan aktivitas faktor pemanjangan EF-2. Faktor ini diperlukan untuk translokasi polipeptidil- RNA transfer dari akseptor ke tempat donor pada ribosom eukariotik. Fragmen toksin A menghentikan aktivitas EF-2 dengan mengkatalisis reaksi yang menhasilkan nikotinamid bebas ditambah suatu kompleks adenosin difosfat-ribosa-EF-2 yang tidak aktif. Diduga bahwa efek nekrotik dan neurotoksik toksin difteria disebabkan oleh penghentian sintesis protein yang mendadak.
D. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Mikroskop
b. Swap
c. Objek gelas
d. Tabung Reaksi
e. Rak tabung reaksi
f. Kertas Saring
2. Bahan
a. Secret Laring
b. Larutan Neisser A
c. Larutan Neisser B
d. Larutan Neisser C
e. Aquadest
E. Prosedur Kerja
1. Preparat yang telah difiksasi diletakkan diatas bak pewarna
2. Kemudian diwarnai dengan 2 bagian larutan Neisser A dan 1 bagian Neisser B (larutan harus dibuat larut) selama 15-30 detik.
3. Kelebihan zat warna dibuang
4. Dan tanpa dicuci, sediaan diwarnai dengan larutan Neisser C selama 15-30 detik.
5. Tanpa dibilas, sediaan dikeringkan diantara 2 helai kertas saring.
6. Kemudian ilihat dibawah mikroskop dengan pembesaran 100X menggunaka oil imercy.
F. Hasil pengamatan

Rabu, 23 Maret 2011

NEUTRON

Neutron atau netron adalah partikel subatomik yang tidak bermuatan (netral) dan memiliki massa 940 MeV/c² (1.6749 × 10-27 kg, sedikit lebih berat dari proton. Putarannya adalah ½.


Inti atom dari kebanyakan atom (semua kecuali isotop Hidrogen yang paling umum, yang terdiri dari sebuah proton) terdiri dari proton dan neutron.
Di luar inti atom, neutron tidak stabil dan memiliki waktu paruh sekitar 10 menit, meluluh dengan memancarkan elektron dan antineutrino untuk menjadi proton. Metode peluruhan yang sama (peluruhan beta) terjadi di beberapa inti atom. Partikel-partikel dalam inti atom biasanya adalah neutron dan proton, yang berubah menjadi satu dan lainnya dengan pemancaran dan penyerapan pion. Sebuah neutron diklasifikasikan sebagai baryon dan terdiri dari dua quark bawah dan satu quark atas. Persamaan Neutron antibendanya adalah antineutron.
Perbedaan utama dari neutron dengan partikel subatomik lainnya adalah mereka tidak bermuatan. Sifat netron ini membuat penemuannya lebih terbelakang, dan sangat menembus, membuatnya sulit diamati secara langsung dan membuatnya sangat pentin sebagai agen dalam perubahan nuklir.
Penelitian yang dilakukan Rutherford selain sukses mendapatkan beberapa hasil yang memuaskan juga mendapatkan kejanggalan yaitu massa inti atom unsur selalu lebih besar daripada massa proton di dalam inti atom. Rutherford menduga bahwa terdapat partikel lain di dalam inti atom yang tidak bermuatan karena atom bermuatan positif disebabkan adanya proton yang bermuatan positif. Adanya partikel lain di dalam inti atom yang tidak bermuatan dibuktikan oleh James Chadwick pada tahun 1932. Chadwick melakukan penelitian dengan menembak logam berilium menggunakan sinar alfa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suatu partikel yang tak bermuatan dilepaskan ketika logam berilium ditembak dengan sinar alfa dan partikel ini disebut sebagai neutron.
Netron tak bermuatan dan bermassa 1 sma (pembulatan).