Total Tayangan Halaman

Selasa, 22 Mei 2012

Kutu Busuk

Kutu Busuk (BED BUGS) Cimex lectularius
1. Klasifikasi Kutu Busuk
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Classis : Insecta
Ordo : Hemiptera
Family : Cimicidae
Genus :Cimex Spesies :
Cimex lectularius

2. Morfologi
a. Kutu busuk, tubuhnya berbentuk oval, gepeng dorsoventral, berukuran 4-6 mm, dan berwarna coklat kekuningan atau coklat gelap.
b. Kepalanya mempunyai sepasang antena yang panjang, mata majemuk yang menonjol di lateral, dan alat mulut yang khas sebagai probosis yang dapat dilipat ke belakang di bawah kepala dan toraks bila tidak digunakan. Bila menghisap darah bagian mulut ini menjulur ke depan. Protoraks membesar dengan lekukan yang dalam di bagian depan tempat kepala menempel
c. Sayapnya tidak berkembang (vestigial) dan abdomennya terdiri atas 9 ruas yang jelas. Seluruh tubuhnya tertutup oleh rambut-rambut kasar (seta) dan beberapa rambut halus.
d. Tibia kaki panjang dan tarsinya mempunyai tiga ruas. Yang dewasa mempunyai sepasang kelenjar bau di ventral toraks, dan yang muda mempunyai kelenjar serupa di dorsal abdomen.
e. Bagian mulut digunakan untuk menusuk dan menghisap. Labrumnya kecil dan tidak dapat digerakkan. Labium membentuk suatu tabung yang terdiri atas 4 ruas, dan mengandung stilet maksila dan mandibula yang berguna untuk menusuk dan mengisap.

3. Siklus hidup
       Kutu busuk ini aktif mengisap darah manusia dan hewan di malam hari. Tusukan bagian mulut kutu busuk ini sangat menyakitkan dan menimbulkan kegatalan serta bentol-bentol yang cukup mengganggu. Setelah mengisap darah biasanya kutu busuk ini akan bersembunyi di celah-celah tersebut selama beberapa hari, kemudian bertelur. 
  1.  Seekor betina mampu memproduksi sebanyak 150-200 butir telur selama frekwensi bertelur setiap harinya 3-4 butir. Telurnya berwarna putih krem, panjangnya satu mm dan mempunyai operkulum. Dalam waktu 3-14 hari pada suhu 23o C, telur akan menetas menjadi nimfa. 
  2. Nimfa pertama akan berganti kulit menjadi nimfa ke-2, 3, demikian seterusnya sampai nimfa kemudian berganti kulit lagi menjadi instar terakhir. Banyaknya pergantian kulit berbeda-beda tergantung jenis, makanan dan suhu. Rata-rata antara 5 sampai 6 kali. Pertumbuhan yang demikian termasuk ke dalam metamorfosis tidak sempurna. Laju perkembangan juga tergantung makanan dan suhu. 
  3. Pada suhu yang sesuai, stadium dewasa dicapai dalam waktu 8-13 minggu setelah menetas. Lama hidup (longevity) dewasa panjang yaitu 6-12 bulan, dan ia dapat bertahan hidup tanpa makan selama 4 bulan. Pemencaran kutu busuk dari satu tempat ke tempat lainnya ialah melalui baju yang dipakai orang, tas, atau peralatan kandang yang mengandung kutu busuk. Biasanya yang potensial sebagai sumber pemencaran dan yang bertanggung jawab dalam proses ini ialah kutu busuk betina yang sudah mengandung telur (gravid).

Jumat, 11 Mei 2012

MAKALAH NYAMUK Aedes sp

BAB I PENDAHULUAN 
A. Latar Belakang
        Nyamuk (Diptera: Culicidae) merupakan vektor beberapa penyakit baik pada hewan mau pun manusia. Banyak penyakit pada hewan dan manusia dalam penularannya mutlak memerlukan peran nyamuk sebagai vektor dari agen penyakitnya, seperti filariasis dan malaria. Sebagian pesies nyamuk dari genus Anopheles dan Culex yang bersifat zoofilik berperan dalam penularan penyakit pada binatang dan manusia, tetapi ada juga spesies nyamuk antropofilik yang hanya menularkan penyakit pada manusia. Salah satu penyakit yang mempunyai vektor nyamuk adalah Demam Berdarah Dengue.
          Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan lingkungan yang cenderung meningkat jumlah penderita dan semakin luas daerah penyebarannya, sejalan dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk. Penyakit demam yang ditularkan oleh nyamuk Ae. aegypti selain demam berdarah dengue (Dengue Hemorrhagic Fever) adalah demam dengue (Dengue Fever) yang dikenal sebagai Cikungunyah (Break Bone Fever) di Indonesia (Supartha,2008). Aedes aegypti lebih berperan dalam penularan penyakit ini, karena hidupnya di dalam dan di sekitar rumah, sedangkan Aedes albopictus di kebun, sehingga lebih jarang kontak dengan manusia. Menurut WHO tahun 2006, Indonesia pernah mengalami kasus terbesar (53%) DBD pada tahun 2005 di Asia Tenggara yaitu 95.270 kasus dan kematian 1.298 orang (CFR = 1,36 %).
          Penyebaran penyakit DBD di suatu kawasan harus dikontrol sehingga penyakit tersebut mendapat penanganan yang tepat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengontrol penyebaran penyakit yaitu dengan melakukan pemetaan vektor penyakit tersebut. Belum ditemukannya obat dan vaksin untuk mengatasi penyakit DBD mengakibatkan cara pencegahan melalui pemutusan rantai penularan dengan mengendalikan populasi vektor penyakit menjadi penting (Lestari,2010).

B. Tujuan
  1. Mengetahui karakteristik nyamuk Aedes   
BAB II 
ISI 
A. Taksonomi
Taksonomi Aedes adalah
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insecta
Ordo : Diptera
Family : Culicidae
Genus : Aedes
        Aedes mempunyai 1162 spesies dan 100 speseies diantaranya adalah: A. (Aedimorphus), A. (Aedimorphus) vexans, A. (Finlaya), A. (Finlaya) japonicus, A. (Finlaya) niveus, A. (Ochlerotatus), A. (Ochlerotatus) caspius, A. (Ochlerotatus) detritus, A. (Ochlerotatus) punctor , A. (Ochlerotatus) rusticus, A. (Ochlerotatus) scapularis, A. (Stegomyia), A. (Stegomyia) aegypti, A. (Stegomyia) albopictus, A. (Stegomyia) cretinus, A. (Stegomyia) riversi, A. (Stegomyia) simpsoni, A. abditus, A. abnormalis, A. aboriginis (Morthwest Coast Mosquito), A. abserratus, A. acrophilus, A. aculeatus, A. adami, A. adenensis, A. adersi, A. aegypta, A. aegyptii, A. aenigmaticus, A. affirmatus, A. africanus, A. agastyai, A. agrestis, A. agrihanensis, A. aitkeni, A. akkeshiensis, A. albescens, A. albicosta, A. albifasciatus, A. albilabris, A. alboannulatus, A. alboapicus, A. albocephalus, A. albocinctus, A. albodorsalis, A. albolateralis, A. albolineatus, A. albomarginatus, A. alboniveus,A. albonotatus, A. albopictus (Asian Tiger Mosquito), A. alboscutellatus, A. albotaeniatus, A. albothorax, A. alboventralis • A. alcasidi • A. aldrichi •A. alektorovi • A. alius • A. alleni • A. allotecnon • A. alocasicola, A. alongi, A. aloponotum, A. alorensis, A. alternans, A. alticola, A. altiusculus, A. amabilis, A. amaltheus, A. amamiensis, A. ambreensis, A. amesii, A. ananae, A. andamanensis, A. andersoni, A. andrewsi, A. anggiensis, A. angustivittatus, A. angustus, A. annandalei, A. annulipes, A. annulirostris, A. annuliventris, A. antipodeus, A. antuensis, A. aobae, A. apicoannulatus, A. apicoargenteus, A. arabiensis, A. arborealis, A. arboricola, A. argenteitarsis, A. argenteopunctatus, A. argenteoscutellatus, A. argenteoventralis, A. argentescens, A. Argenteus. 
 B. Morfologi 
1. Aedes Dewasa 
     Nyamuk memiliki ukuran tubuh yang relatif kecil, memiliki kaki panjang dan merupakan serangga yang memiliki sepasang sayap sehingga tergolong pada ordo Diptera dan family Culicidae. Nyamuk jantan berukuran lebih kecil daripada nyamuk betina. Tubuh nyamuk terdiri atas tiga bagian yaitu kepala, dada dan perut.
Gambar 2.1 Morfologi nyamuk Ae aegypti 
       Nyamuk memiliki sepasang antena berbentuk filiform berbentuk panjang dan langsing serta terdiri atas 15 segmen. Antena dapat digunakan sebagai kunci untuk membedakan kelamin pada nyamuk dewasa. Antena nyamuk jantan lebih lebat daripada nyamuk betina. Bulu lebat pada nyamuk jantan disebut plumose sedangkan pada nyamuk betina yang jumlahnya lebih sedikit disebut pilose. Proboscis merupakan bentuk mulut modifikasi untuk menusuk. Nyamuk betina mempunyai proboscis yang lebih panjang dan tajam, tubuh membungkuk serta memiliki bagian tepi sayap yang bersisik. Dada terdiri atas protoraks, mesotoraks dan metatoraks. Mesotoraks merupakan bagian dada yang terbesar dan pada bagian atas disebut scutum yang digunakan untuk menyesuaikan saat terbang. Sepasang sayap terletak pada mesotoraks. 
      Nyamuk memiliki sayap yang panjang, transparan dan terdiri atas percabangan-percabangan (vena) dan dilengkapi dengan sisi. Abdomen nyamuk tediri atas sepuluh segmen, biasanya yang terlihat segmen pertama hingga segmen ke delapan, segmen-segmen terakhir biasanya termodifikasi menjadi alat reproduksi. Nyamuk betina memiliki 8 segmen yang lengkap. Seluruh segmen abdomen berwarna belang hitam putih, membentuk pola tertentu dan pada betina ujung abdomen membentuk titik (meruncing). 
       Secara morfologis Ae.aegypti dan Ae.albopictus sangat mirip, berukuran tubuh kecil. Panjang 3-4 mm dan bintik hitam dan putih pada badan, kaki dan mempuntai ring putih di kaki. Namun dapat dibedakan dari strip putih yang terdapat pada bagian skutumnya. Skutum Ae. aegypti berwarna hitam dengan dua strip putih sejajar di bagian dorsal tengah yang diapit oleh dua garis lengkung berwarna putih. Sementara skutum Ae. albopictus yang juga berwarna hitam hanya berisi satu garis putih tebal di bagian dorsalnya. Aedes aegypti Aedes albopictus 

2. Telur
Gambar 2.3 Telur Ae.aegypti 
       Telur yang baru dikeluarkan berwarna putih tetapi sesudah 1 – 2 jam berubah menjadi hitam. Telur Aedes berbentuk bulat panjang (oval) menyerupai torpedo, mempunyai dinding yang bergaris-garis yang menyerupai sarang lebah. Telur tidak berpelampung dan diletakkan satu persatu terpisah di atas permukaan air dalam keadaan menempel pada dinding tempat perindukannya.
      Telur tersebut diletakkan secara terpisah di permukaan air untuk memudahkannya menyebar dan berkembang menjadi larva di dalam media air. Media air yang dipilih untuk tempat peneluran itu adalah air bersih yang stagnan (tidak mengalir) dan tidak berisi spesies lain sebelumnya. Sejauh ini, informasi mengenai pemilihan air bersih stagnant sebagai habitat bertelur Ae. aegypti banyak dilaporkan oleh peneliti serangga vektor tersebut dari berbagai negeri.
        Laporan terakhir yang disampaikan oleh penelitian IPB Bogor bahwa ada telur Ae. aegypti yang dapat hidup pada media air kotor dan berkembang menjadi larva. Sementara Ae. albopictus meletakkan telurnya dipinggir kontener atau lubang pohon di atas permukaan air. Percobaan yang hati-hati menunjukkan bahwa cangkang telur memiliki pola mosaik tertentu. Telur Aedes dapat bertahan pada kondisi kering pada waktu dan intensitas yang bervariasi hingga beberapa bulan, tetapi tetap hidup. Jika tergenang air, beberapa telur mungkin menetas dalam beberapa menit, sedangkan yang lain mugkin membutuhkan waktu lama terbenam dalam air, kemudian penetasan berlangsung dalam beberapa hari atau minggu.
       Seekor nyamuk betina meletakkan telurnya rata-rata sebanyak 100 butir setiap kali bertelur. Telur dapat bertahan sampai berbulan-bulan dalam suhu 2-24°C, namun akan menetas dalam waktu 1-2 hari pada kelembaban rendah. Telur diletakkan di air akan menetas dalam waktu 7 hari pada suhu 16°C dan akan membutuhkan yang direndam akan menetas sebanyak 80% pada hari pertama dan. Setelah 2-4 hari telur menetas menjadi larva yang hidup di dalam air.

 3. Larva atau Jentik
Gambar 2.4 Larva Ae. Aegypti
         Larva Aedes memiliki sifon yang pendek dan hanya ada sepasang sisir subventral yang jaraknya tidak lebih dari ¼ bagian dari pangkal sifon dengan satu kumpulan rambut. Pada waktu istirahat membentuk sudut dengan permukaan air. Terdapat empat tahapan dalam perkembangan larva yang disebut instar. Larva nyamuk semuanya hidup di air yang tahapannya terdiri atas empat instar. Keempat instar itu dapat diselesaikan dalam waktu 4 hari – 2 minggu tergantung keadaan lingkungan seperti suhu air persediaan makanan. Larva menjadi pupa membutuhkan waktu 6–8 hari. 
 
4. Pupa atau Kepompong
Gambar 2.5 Pupa Ae.aegypti 
         Pupa adalah fase inaktif yang tidak membutuhkan makan, namun tetap membutuhkan oksigen untuk bernafas. Untuk keperluan pernafasannya pupa berada di dekat permukaan air. Lama fase pupa tergantung dengan suhu air dan spesies nyamuk yang lamanya dapat berkisar antara satu hari sampai beberapa minggu. Setelah melelewati waktu itu maka pupa membuka dan melepaskan kulitnya kemudian imago keluar ke permukaan air yang dalam waktu singkat siap terbang. Pupa sangat sensitife terhadap pergerakan air dan belum dapat dibedakan antara jantan dan betina. Bentuk pada stadium pupa ini seperti bentuk terompet panjang dan ramping. 


C. Siklus Hidup
      Nyamuk termasuk serangga yang mengalami metamorfosis sempurna (holometabola) karena mengalami empat tahap dalam masa pertumbuhan dan perkembangan. Tahapan yanag dialami oleh nyamuk yaitu telur, larva, pupa dan dewasa. Telur nyamuk akan menetas menjadi larva dalam waktu 1-2 hari pada suhu 20-40°C. Kecepatan pertumbuhan dan perkembangan larva dipengaruhi oleh suhu, tempat, keadaan air dan kandungan zat makanan yang ada di tempat perindukan. Pada kondisi optimum, larva berkembang menjadi pupa dalam waktu 4-9 hari dan pada kondisi ini nyamuk tidak makan tapi tetap membutuhkan oksigen yang diambilnya melalui tabung pernafasan (breathing trumpet) , kemudian pupa menjadi nyamuk dewasa dalam waktu 2-3 hari sehingga waktu yang dibutuhkan dari telur hingga dewasa yaitu 7-14 hari.
Suhu udara merupakan salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangan jentik nyamuk Aedes aegypti. Pada umumnya nyamuk akan meletakkan telurnya pada temperatur sekitar 20 – 30ºC. Toleransi terhadap suhu tergantung pada spesies nyamuk. telur nyamuk tampak telah mengalami embriosasi lengkap dalam waktu 72 jam dalam temperatur udara 25 - 30ºC. Rata-rata suhu optimum untuk pertumbuhan nyamuk adalah 25 – 27ºC dan pertumbuhan nyamuk akan berhenti sama sekali bila suhu kurang dari 10ºC atau lebih dari 40ºC.
Kelembaban udara juga merupakan salah satu kondisi lingkungan yang dapat mempengaruhi perkembangan jentik nyamuk Aedes aegypti. kelembaban udara yang berkisar 81,5 - 89,5% merupakan kelembaban yang optimal untuk proses embriosasi dan ketahanan hidup embrio nyamuk. Sedangkan tempat perindukan yang paling potensial dalam siklus hidup nyamuk adalah di kontainer atau tempat perindukan yang digunakan untuk keperluan sehari - hari seperti drum, tempayan, bak mandi, bak WC, ember, dan sejenisnya.
Nyamuk lebih menyukai tempat perindukan yang berwarna gelap, terlindung dari sinar matahari, permukaan terbuka lebar, berisi air tawar jernih dan tenang. Tempat perindukan nyamuk (tempat nyamuk meletakkan telur) terletak di dalam maupun di luar rumah. Tempat perindukan di dalam rumah yaitu tempat-tempat penampungan air antara lain bak air mandi, bak air WC, tandon air minum, tempayan, gentong air, ember, dan lainlain. Tempat perindukan di luar rumah antara lain dapat ditemukan di drum, kaleng bekas, botol bekas, pot bekas, pot tanaman hias yang terisi air hujan dan lain-lain. Tempat perindukan nyamuk juga dapat ditemukan pada tempat penampungan air alami misalnya pada lubang pohon dan pelepah-pelepah daun.
Ae albopictus berkembang biak pada kontainer temporer tetapi lebih suka pada kontainer alamiah di hutan-hutan, seperti lubang pohon, ketiak daun, lubang batu dan batok kelapa, serta berkembang biak lebih sering di luar rumah di kebun dan jarang ditemukan di dalam rumah pada kontainer buatan seperti gentong dan ban mobil. Spesies ini memiliki telur yang dapat bertahan pada kondisi kering tetapi tetap hidup.
Nyamuk Aedes betina menghisap darah untuk mematangkan telurnya. Waktu mencari makan (menghisap darah) adalah pada pagi atau petang hari. Kebanyakan spesies menggigit dan beristirahat di luar rumah tetapi di kota-kota daerah tropis, Ae aegypti berkembang biak, menghisap darah dan beristirahat di dalam dan sekitar rumah. Ada pula yang menemukan Aedes menghisap darah di dalam rumah dan beristirahat sebelum dan sesudah makan di luar rumah.
A.    Bionomi
Bionomik vektor meliputi kesenangan tempat perindukan nyamuk, kesenangan nyamuk menggigit, kesenangan nyamuk istirahat, lama hidup dan jarak terbang :
1.      Kesenangan tempat perindukan nyamuk.
Tempat perindukan nyamuk biasanya berupa genangan air yang tertampung disuatu tempat atau bejana. Nyamuk Aedes tidak dapat berkembangbiak digenangan air yang langsung bersentuhan dengan tanah. Genangannya yang disukai sebagai tempat perindukan nyamuk ini berupa genangan air yang tertampung di suatu wadah yang biasanya disebut kontainer atau tempat penampungan air bukan genangan air di tanah.Survei yang telah dilakukan di beberapa kota di Indonesia menunjukkan bahwa tempat perindukan yang paling potensial adalah TPA yang digunakan sehari –hari seperti drum, tempayan, bak mandi, bak WC, ember dan sejenisnya. Tempat perindukan tambahan adalah disebut non-TPA, seperti tempat minuman hewan, vasbunga, perangkap semut dan lain-lainnya, sedangkan TPA alamiah seperti lubang pohon, lubang batu, pelepah daun, tempurung kelapa, kulit kerang, pangkal pohon pisang, potongan bambu, dan lain-lainnya.
Nyamuk Aedes aegypti lebih tertarik untuk meletakkan telurnya pada TPA berair yang berwarna gelap, paling menyukai warna hitam, terbuka lebar, dan terutama yang terletak di tempat-tempat terlindungsinar matahari langsung.Tempat perindukan nyamuk Aedes yaitu tempat di mana nyamuk Aedes meletakkan telurnya terdapat di dalam rumah (indoor) maupun di luar rumah(outdoor). Tempat perindukan yang ada di dalam rumah yang paling utama adalah tempat-tempat penampungan air: bak mandi, bak air WC, tandon air minum,tempayan, gentong tanah liat, gentong plastik, ember, drum, vas tanaman hias,perangkap semut, dan lain-lain. Sedangkan tempat perindukan yang ada di luar rumah (halaman): drum, kaleng bekas, botol bekas, ban bekas, pot bekas, pottanaman hias yang terisi oleh air hujan, tandon air minum, dan lain-lain.
2.      Kesenangan nyamuk menggigit
Nyamuk Aedes hidup di dalam dan di sekitar rumah sehingga makanan yang diperoleh semuanya tersedia di situ. Boleh dikatakan bahwa nyamuk Aedes aegypti betina sangat menyukai darah manusia (antropofilik). Kebiasaan menghisap darah terutama pada pagi hari jam 08.00-12.00 dan sore hari jam 15.00-17.00. Nyamuk betina mempunyai kebiasaan menghisap darah berpindah-pindah berkali-klali dari satu individu ke individu yang lain. Hal ini disebabkan karena pada siang harimanusia yang menjadi sumber makanan darah utamanya dalam keadaan aktif bekerja/bergerak sehingga nyamuk tidak dapat menghisap darah dengan tenang sampai kenyang pada satu individu. Keadaan inilah yang menyebabkan penularan penyakit DBD menjadi lebih mudah terjadi.Waktu mencari makanan, selain terdorong oleh rasa lapar, nyamuk Aedes juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu bau yang dipancarkan oleh inang,temperatur, kelembaban, kadar karbon dioksida dan warna. Untuk jarak yang lebih jauh, faktor bau memegang peranan penting bila dibandingkan dengan faktor lainnya.
Sedangkan nyamuk Aedes Albopictus betina aktif di luar ruangan yang teduh dan terhindar dari angin. Nyamuk iniaktif menggigit pada siang hari. Puncak aktivitas menggigit ini bervariasi tergantung habitat nyamuk meskipun diketahui pada pagi hari dan petang hari
3.      Kesenangan nyamuk istirahat
Kebiasaan istirahat nyamuk Aedes aegypti lebih banyak di dalam rumah pada benda-benda yang bergantung, berwarna gelap, dan di tempat-tempat lain yangterlindung. Di tempat-tempat tersebut nyamuk menunggu proses pematangan telur. Setelah beristirahat dan proses pematangan telur selesai, nyamuk betina akanmeletakan telurnya di dinding tempat perkembangbiakannya, sedikit di ataspermukaan air. Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentik dalam waktu ± 2 hari setelah telur terendam air. Setiap kali bertelur nyamuk betina dapat mengeluarkan telur sebanyak 100 butir. Telur tersebut dapat bertahan sampai berbulan-bulan bila berada di tempat kering dengan suhu -2ºC sampai 42ºC, danbila di tempat tersebut tergenang air atau kelembabannya tinggi maka telur dapat menetas lebih cepat.
4.      Jarak terbang
Penyebaran nyamuk Aedes Aegypti betina dewasa dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk ketersediaan tempat bertelur dan darah, tetapi tampaknya terbatas sampai jarak 100 meter dari lokasi kemunculan.Akan tetapi penelitian terbaru di Puerto Rico menunjukkan bahwa nyamuk ini dapat menyebar sampai lebih dari 400 meter terutama untuk mencari tempat bertelur.Transportasi pasif dapat berlangsung melalui telur dan larva yang ada di dalam penampung.
5.      Lama hidup
Nyamuk Aedes Aegypti dewasa memiliki rata-rata lama hidup 8 hari. Selama musim hujan, saat masa bertahan hidup lebih panjang, risiko penyebaran virus semakin besar.Dengan demikian, diperlukan lebih banyak penelitian untuk mengkaji survival alami Aedes Aegypti dalam berbagai kondisi.
Untuk dapat memberantas nyamuk Aedes Aegypti secara efektif diperlukan pengetahuan tentang pola perilaku nyamuk tersebut yaitu perilaku mencari darah, istirahat dan berkembang biak, sehingga diharapkan akan dicapai Pemberantasan Sarang Nyamuk dan jentik Nyamuk Aedes Aegypti yang tepat.
Perilaku tersebut meliputi :
a)    Perilaku Mencari Darah
1)      Setelah kawin, nyamuk betina memerlukan darah untuk bertelur
2)      Nyamuk betina menghisap darah manusia setiap 2 – 3 hari sekali
3)      Menghisap darah pada pagi hari sampai sore hari, dan lebih suka pada jam 08.00 – 12.00 dan jam 15.00 – 17.00
4)      Untuk mendapatkan darah yang cukup, nyamuk betina sering menggigigt lebih dari satu orang
5)      Jarak terbang nyamuk sekitar 100 meter
6)      Umur nyamuk betina dapat mencapai sekitar 1 bulan.
b)      Perilaku Istirahat
Setelah kenyang menghisap darah, nyamuk betina perlu istirahat sekitar 2 – 3 hari untuk mematangkan telur. Tempat istirahat yang disukai :
1)      Tempat-tempat yang lembab dan kurang terang, seperti kamar mandi, dapur, WC
2)      Di dalam rumah seperti baju yang digantung, kelambu, tirai.
3)      Di luar rumah seperti pada tanaman hias di halaman rumah.

c)      Perilaku berkembangbiak
Nyamuk aedes aegypti bertelur dan berkembang biak di tempat penampungan air bersih seperti:
1)      Tempat penampungan air untuk keperluan sehari-hari :bak mandi, WC, tempayan, drum air, bak menara( tower air) yang tidak tertutup, sumur gali.
2)      Wadah yang berisi air bersih atau air hujan: tempat minum burung, vas bunga, pot bunga, potongan bambu yang dapat menampung air, kaleng, botol, tempat pembuangan air di kulkas dan barang bekas lainnya yang dapat menampung air meskipun dalam volume kecil.
B.     Pengendalian
Pemberantasan nyamuk Ae. aegypti dan Ae. albopictus bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian penyakit demam berdarah dengue hingga ke tingkat yang bukan merupakan masalah kesehatan masyarakat lagi. Kegiatan pemberantasan nyamuk Aedes yang dapat dilaksanakan dengan dua cara yaitu:
1.      Pemberantasan Nyamuk Dewasa
Pemberantasan terhadap nyamuk dewasa dilakukan dengan cara :
a)      Pengasapan (Fogging)
Pengasapan atau fogging dengan menggunakan jenis insektisida.
b)      Repelen
Repelen, yaitu bahan kimia atau non-kimia yang berkhasiat mengganggu kemampuan insekta untuk mengenal bahan atraktan dari hewan atau manusia.
c)      Teknik Serangga Mandul (TSM)
Radiasi dapat dimanfaatkan untuk pengendalian vektor yaitu untuk membunuh secara langsung dengan teknik desinfestasi radiasi dan membunuh secara tidak langsung yang lebih dikenal dengan Teknik Serangga Mandul (TSM), yaitu suatu teknik pengendalian vektor yang potensial, ramah lingkungan, efektif, spesies spesifik dan kompatibel.
2.      Pemberantasan jentik
Pemberantasan terhadap jentik Aedes aegypti yang dikenal dengan istilah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dilakukan dengan cara :
a)      Fisik
Cara ini dilakukan dengan menghilangkan atau mengurangi tempat-tempat perindukkan. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang pada dasarnya ialah pemberantasan jentik atau mencegah agar nyamuk tidak dapat berkembang biak. PSN ini dapat dilakukan dengan :
1)      Menguras bak mandi dan tempat-tempat penampungan air sekurangkurangnya seminggu sekali. Ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa perkembangan telur menjadi nyamuk selama 7-10 hari.
2)      Menutup rapat tempat penampungan air seperti tempayan, drum dan tempat air lain
3)      Mengganti air pada vas bunga dan tempat minum burung sekurangkurangnya seminggu sekali
4)      Membersihkan pekarangan dan halaman rumah dari barang-barang bekas seperti kaleng bekas dan botol pecah sehingga tidak menjadi sarang nyamuk.
5)      Menutup lubang-lubang pada bambu pagar dan lubang pohon dengan tanah
6)      Membersihkan air yang tergenang diatap rumah
7)      Memelihara ikan.
b)      Kimia
Dikenal sebagai Larvasidasi atau Larvasiding yakni cara memberantas jentik nyamuk Aedes aegypti dengan menggunakan insektisida pembasmi jentik (larvasida).

c)      Biologi
Pengendalian ini dilakukan dengan menggunakan makhluk hidup, baik dari golongan mikroorganisme, hewan invertebrata atau hewan vertebrata. Organisme tersebut dapat berperan sebagai patogen, parasit atau pemangsa.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
 Nyamuk Aedes merupakan ordo Diptera mempunyai 1162 spesies. Aedes aegypti dan Ae. Albopictus merupakan vektor Demam Berdarah Dengue. Ae. aegypti selain vektor demam berdarah dengue (Dengue Hemorrhagic Fever) adalah demam dengue (Dengue Fever) yang dikenal sebagai Cikungunyah (Break Bone Fever). Ciri khas yang membedakan Aedes aegypti dan Ae. Albopictus adalah strip putih yang terdapat pada bagian skutumnya. Skutum Ae. aegypti berwarna hitam dengan dua strip putih sejajar di bagian dorsal tengah yang diapit oleh dua garis lengkung berwarna putih. Sementara skutum Ae. albopictus yang juga berwarna hitam hanya berisi satu garis putih tebal di bagian dorsalnya. Nyamuk termasuk serangga yang mengalami metamorfosis sempurna (holometabola). Tahapan yanag dialami oleh nyamuk yaitu telur, larva, pupa dan dewasa. Bionomik vektor meliputi kesenangan tempat perindukan nyamuk, kesenangan nyamuk menggigit, kesenangan nyamuk istirahat, lama hidup dan jarak terbang.





DAFTAR PUSTAKA
www.informasikesehatan.org/pencegahan-penyakit-demam-berdarah-dengan-pemeriksaan-jentik.html

Contoh Laporan Imunoserologi

LAPORAN IMUNOSEROLOGI I 

Hari / Tanggal : Senin, 26 Maret 2012
Judul : Penentuan Kadar HCG
Tujuan : Untuk menentukan kadar HCG
Metode : Direct Prinsip : HCG dalam sampel urin + anti-HCG polystirine partikel latex yang dilapisi anti HCG
Dasar Teori :
Human Chorionic Gonadotropin (HCG) adalah sejenis Glikoprotein yang dihasilkan oleh plasenta dalam kehamilan. Namun selama plasenta belum terbentuk, hormon ini dihasilkan sel-sel fungsi tropoblas. Setelah umur kehamilan memasuki 12-13 minggu,haormon HCG ini dihasilkan oleh plasenta.
       Di dalam tubuh, hormon ini bersifat mempertahankan korpus luteum, yakni jaringan di ovarium yang menghasilkan progesteron. Hormon progesteron ini berfungsi untuk memelihara atau mempertahankan proses kehamilan, sedangkan korpus luteum ini ditunjang keberadaannya oleh HCG. Ada dua cara . Pertama dengan menggunakan uji kehamilan home pregnancy test (HPT) yang biasa dikenal dengan test pack. Pengecekan kualitatif ini cukup mudah yakni dengan mencelupkan ujung alat ke dalam urin, biasanya alat uji ini memiliki indikator berupa dua buah garis.
         Waktu yang tepat untuk melakukan tes urin biasanya adalah 4-5 hari atau 1 minggu setelah terlambat haid, karena sebagian besar test pack sudah dapat mendeteksi HCG dengan kadar 50 IU/ml. Kedua dengan pengecekan lewat darah. Pengecekan kuantitatif ini lebih akurat tentunya karena biasanya yang diukur adalah jumlah subunit beta hormon HCG (ß-hCG). Pemeriksaannya menggunakan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Tes melalui darah ini lebih cepat dibandingkan dengan urin, karena sebenarnya kadar HCG sudah ada dalam darah sejak implantasi terjadi, atau sejak terjadi pembuahan pada hari ke 8 sudah terdapat beta HCG sehingga bisa terdeteksi lewat darah. Hanya saja pemeriksaan lewat darah masih sangat jarang karena harganya relatif mahal.
          Jumlah kadar HCG yang ideal bisa berubah atau berbeda-beda tergantung pada usia kehamilan. Kadar HCG yang ideal adalah tidak terlalu rendah, maupun tidak terlalu tinggi. Jumlah hormon HCG tidak ditentukan oleh umur si ibu, jadi yang benar-benar mempengaruhi jumlah kadar HCG adalah usia kehamilan. Kadar beta HCG ang bisa terdeteksi pada kehamilan 5 minggu yakni sekitar 22 IU/ml. Bila kadar HCG-nya rendah bisa menyebabkan keguguran.
          Sedangkan kalau kadar HCG-nya terlalu tinggi harus dicurigai karena bisa menyebabkan hamil anggur. Tidak dapat dipungkiri, stres pasti berpengaruh terhadap normalitas metabolisme dalam tubuh manusia, dan bisa mengganggu proses2 tersebut. Apalagi pada orang hamil. Seyogyanya, pada orang hamil menghindari stres baik fisik maupun psikis karena berdampak pada kehamilannya itu. Banyak mengkonsumsi makanan bergizi dan kontrol ke dokter untuk antenatal care karena pada minggu2 awal sering terjadi "morning sickness" (mual, muntah, lemas, dll).
          Pada minggu2 awal bisa terjadi perdarahan (abortus). Abortus adalah ancaman/pengeluaran hasil pembuahan (konsepsi) dengan berat badan janin <500 gram atau kehamilan kurang dari 20 minggu. Mungkin yang dimaksud Agan Keplak adalah abortus iminen. Ada pula yang disebut abortus insipien (Abortus Iminen: Perdarahan minimal dengan nyeri/tidak Uterus sesuai dengan umur kehamilan, Servike belum membuka, Test hamil: positif, USG: Produk kehamilan dalam betas normal; Abortus Insipien: Perdarahan dengan gumpalan darah, Nyeri lebih kuat, Servike terbuka den teraba ketuban, Hasil konsepsi masih berada dalam kavum uteri. Pada abortus iminen penanganannya terdiri atas istirahat baring untuk menambah aliran darah ke uterus dan mengurangi rangsangan mekanis. Mudah2an bisa membantu. (id.wikipedia.org/wiki/Hormon_Hcg)

Alat dan Bahan :
1.    Alat
a.    Tabung reaksi
b.    Pipet volume
c.    Mikropipet 100 μl dan 1000 μl
2.    Bahan
a.    Urin
b.    Reagen latex

Prosedur Kerja :
1.    Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2.    Mengambil 1 tetes urin atau ± 40 μl.
3.    Ditambahkan 1 tetes reagen latex atau ± 40 μl.
4.    Dihomogenkan kemudian diperhatikan terbentuknya aglutinasi sebelum 1-2 menit karena dapat menyebabkan positif (+) palsu.
Hasil                   :
Teraglutinasi (+)
Makassar, 9 April 2012
     Pembimbing                                                                         Pembimbing,


    (Nurdin, S.Si)                                                                       (Israwati, S.Si)
Praktikan,

(Panca Rahmat)

LAPORAN IMUNOSEROLOGI II


LAPORAN IMUNOSEROLOGI II
Hari / Tanggal   : Senin,   26 April 2012
Judul                  : Penentuan Kadar HCG
Tujuan                : Untuk mendiagnosis Human Chorionic Gonadotropin (HCG) dengan deteksi kuantitatif secara cepat dalam sampel urine.
Metode               : Kuantitatif
Prinsip                :
HCG dalam sampel urin + anti-HCG polystirine partikel latex yang dilapisi anti HCG. Pengujian ditetapkan untuk mendeteksi konsentrasi dalam kisaran 200 ± 100 IU.
Dasar Teori        :
Hormon Chorionic Gonadotropin (hCG) adalah hormon gonadotropin
yang disekresi oleh wanita hamil dan disintesa oleh sel-sel sintitio tropoblas dari placenta. Hormon hCG mempunyai dua rangkaian rantai peptide yaitu α yang mengandung 92 asam amino dan β mengandung 145 asam amin. Hormon Chorionic Gonadotropin (hCG) mempertahankan korpus luteum yang terbentuk ketika sel telur dibuahi yang dilanjutkan dengan terjadinya ovulasi. Hormon hCG berdampak pada meningkatnya produksi progesterone oleh indung telur sehingga menekan menstruasi dan menjaga kehamilan. Produksi hormon hCG akan meningkat hingga hari ke 70 dan akan menurun selama sisa kehamilan. Hormon ini di ekskresikan melalui urin juga terdapat dalam serum. (
http://zieczhuo.blogspot.com/2010/12/uji-kehamilan-direct-latex.html#!/2010/12/uji-kehamilan-direct-latex.html)
Human Chorionic Gonadatrophin (hCG) adalah hormon yang bekerja mirip LH (luteinising hormone) yang secara normal diproduksi oleh kelenjar pituitari. Pada anak laki-laki LH dan juga hCG memberitahu testis untuk memproduksi hormon sex laki-laki (testosterone).
Pada anak perempuan, hCG memberitahu ovarium untuk memproduksi progesteron tetapi hal ini terjadi hanya pada masa kehamilan. sehingga hCG lebih bemanfaat bagi anak laki-laki dibanding anak perempuan.
Human chorionic gonadotropin (hCG) adalah hormon peptida yang diproduksi pada masa kehamilan, yang dibuat oleh embrio segera setelah pembuahan dan selanjutnya oleh syncytiotrophoblast (bagian dari plasenta).
HCG mengatur untuk mencegah perpecahan dari corpus luteum pada ovarium dan juga mempertahankan produksi progesteron yang penting pada kehamilan pada manusia. HCG mungkin mempunyai fungsi tambahan, sebagai contoh diperkirakan HCG mempengaruhi toleransi imunitas pada kehamilan. (http://mediastore.com/apotik-online/hormon/hormon-tropik-dan-sintetiknya.htm).
Kadar Hormon Chorionic Gonadotropin (hCG) berubah selama kehamilan trimester pertama. Kadar hormon ini dapat diukur untuk menentukan apakah anda hamil atau tidak. Hormon ini diproduksi oleh sel yang membentuk plasenta atau ari-ari, yang berfungsi dalam rahim.
Kadar hCG berubah secara dramatis selama trimester pertama. Hormon ini adalah yang pertama kali dapat dideteksi sekitar 11 hari setelah terjadi pembuahan. Tetapi hanya melalui etst darah. Setelah itu antara hari ke-12 sampai 14, hormon ini dapat dideteksi dengan test urine. Kadar hCG akan berlipat ganda kurang lebih setiap 72 jam mulai dari minggu pertama sampai ke-12 kehamilan, lalu akan cenderung menurun setelah itu. (http://hairy.wordpress.com/2008/07/12/kadar-hormon-human-chorionic-gonadotropin-hcg-pada-trimester-pertama-kehamilan/)

Alat dan Bahan :
1.    Alat
a.    Tabung reaksi
b.    Pipet volume
c.    Mikropipet 100 μl dan 1000 μl
2.    Bahan
a.    Urin
b.    Reagen latex

Prosedur Kerja :
1.    Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2.    Mengambil 1 tetes urin atau ± 40 μl pada kertas stripdan kemudian ditambahkan 1 tetes latex.
3.    Homogenkann dan diperhatikan aglutinasinya sebelum dua menit karena akan menghasilakan positif (+) palsu.
4.    Memipet 100 μl urin kedalam tabung reaksi 1 dan ditambahkan 100 μl NaCl 0,9 %, lalu homogenkan.
5.    Memipet 100 μl larutan tabung 1 dan masukkan kedalam tabung 2 yang telah berisi larutan NaCl 0,9 % 100 μl dan homogenkan.
6.    Memipet lagi 100 μl pada tabung 2, lalu masukkan kedalam tabung 3 yang telah berisi NaCl 0.9 %. Begitu seterusnya sampai tabung 5.
7.    Memipet 100 μl larutan pada tabung 5 dan masukkan kedalam tabung 6 (pembuangan).
8.    Mengambil 1 tetes larutan pada masing-masing tabung dan letakkan pada card plate.
9.    Menambahkan 1 tetes latex pada masing-masing lubang card plate.
10. Dihomogenkan dan diperhatikan aglutinasinya.

Hasil                   :
  Titer = 1/8 UI



Makassar, 9 April 2012
     Pembimbing                                                                         Pembimbing,


    (Nurdin, S.Si)                                                                         (Israwati, S.Si)
Praktikan,

(Panca Rahmat)
 
 LAPORAN IMUNOSEROLOGI III 

Hari / Tanggal : Senin, 9 April 2012
Judul : Reaksi Widalt
Tujuan : Untuk mendiagnosa demam tifoid Metode : Direct
Dasar Teori :
     Reaksi Widal merupakan test imunitas yang ditimbulkan oleh kuman Salmonella typhi / paratyphi, yaitu kuman yang terdapat di minuman dan makanan kita yang terkontaminasi dengan tinja orang yang sakit tifus. Jakarta dan Indonesia merupakan reservoir raksaksa kuman salmonella dan lainnya.
     Semua manusia di Indonesia pasti pernah kemasukan kuman salmonella melalui food-chain ini. Bila kebetulan jumlah kuman yang tertelan cukup besar mungkin akan timbul penyakit tifus yang terutama ditandai oleh demam berkepanjangan sebagai ciri khas. Namun tidak semua demam adalah tifus. Tifus perlu dicurigai bila demam berlanjut sedikitnya 6-7 hari. Juga demam tifus pada hari2 permulaan hanya ringan, tidak konstan, naik-turun, dan hanya setelah 5-7 hari akan tinggi menetap, disertai badan pegal dan sakit kepala, serta kadang2 mual dan diare ringan.
      Diagnosis tifus bisa dicurigai setelah demam sekitar seminggu ditambah gejala2 diatas. Secara statistik juga demam tanpa adanya gejala positif yang mengarah ke penyakit lain, kemungkinan tifus adalah yang paling besar di Jakarta. Hal ini juga ditopang oleh musim kemarau dan banjir yang membawa kuman salmonella.
           Pemeriksaan labor untuk konfirmasi kecurigaan tadi ialah kultur darah, dilakukan sewaktu ada demam tinggi yang merupakan pertanda bahwa kuman sedang menyebar dalam darah (sehingga lebih mudah dikultur). Kultur tidak bia dilakukan pada hari2 permulaan demam karena cenderung masih negatif. Kita harus menunggu hingga demam sudah tinggi dan konstan. Sayangnya hasil kultur untuk kepastian diagnosanya baru diperoleh setelah 4-6 hari. Namun pengobatan sudah bisa dilakukan atas dasar penilaian klinis, sambil menunggu hasil kultur.  
            Test Widal tidak bisa dipercayai karena terlalu banyak test yang false positif maupun false negative. Test Widal hanya akan berguna untuk follow-up, terutama jaman dulu waktu mana belum ada antibiotika dan tifus bisa berlangsung 1 bulan atau lebih. Ia berguna untuk melihat apakah titernya naik selama penyakit tersebut. Inipun tidak berguna lagi karena obat antibiotik yang ampuh sudah tersedia dan akan menyembuhkan tifus dalam 7-10 hari, sehingga tidak perlu follow-up.
        Tingginya titer juga sangat individual dan tergantung kemampuan tubuh kita membuat antibody. Misalnya, saya mempunyai seorang pasien laki, muda yang selama lebih dari 6 bulan (tanpa demam) diberi antibiotika berganti2 oleh dokternya hanya karena titer Widalnya sangat tinggi (sekitar 1/8000) dan tidak mau turun. Tentu hal ini mubazir. Sekarang musim hujan lagi dan frekuensi tifus akan naik di Jakarta. Bawalah tulisan ini dan berilah ke dokter anda bila anda disuruh periksa Widal. (www.iwandarmansjah.web.id/popular.php?id=232)


Alat dan Bahan
1.    Alat
a.    Rak tabung reaksi
b.    Tabung reaksi
c.    Pipet volume
d.    Mikropipet 10 μl.
2.    Bahan
a.    Serum
b.    Reagen Tyda

Prosedur Kerja :
1.    Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2.    Meneteskan 1 tetes atau ± 40 μl serum pada masing-masing lingkaran slide (4 lingkaran).
3.    Menambahakan 1 tetes reagen tydal pada masing-masing lingkaran yang ada pada slide (0 AH H BH).
4.    Homogenkan dan diperhatikan aglutinasi pada slide.

Hasil                 :
Untuk 20 μl
       O    : -                   AH      : -
       H    : + (1/80)      BH      : -
Untuk 10 μl
       O    : -                   AH      : -
       H    : + (1/160)    BH      : -
Makassar, 7 Mei 2012
     Pembimbing                                                                         Pembimbing,


    (Nurdin, S.Si)                                                                         (Israwati, S.Si)
Praktikan,

(Panca Rahmat)